Pempek yang Menempati Urutan Keempat Hidangan Laut Terbaik Global

Pempek yang Menempati Urutan Keempat Hidangan Laut Terbaik Global – Dunia kuliner internasional baru saja memberikan penghormatan besar bagi warisan nusantara.

Pempek, penganan khas dari Kota Palembang, Sumatera Selatan, secara resmi dinobatkan sebagai makanan olahan hasil laut (seafood)

Baca Juga: Warung Makan Ikonik di Bali Menembus Tiga Besar Kuliner Paling Legendaris Sejagat

paling enak nomor empat di seluruh dunia menurut ulasan para kritikus dan pecinta kuliner global. Pencapaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa cita rasa lokal Indonesia memiliki kompleksitas dan keunikan yang mampu bersaing dengan kuliner kelas dunia lainnya.

Dalam artikel ini, kita akan membedah secara tuntas mengapa pempek bisa meraih predikat bergengsi tersebut, sejarah panjang di balik pembuatannya, ragam jenisnya yang kaya, hingga filosofi rasa yang membuatnya tak terlupakan bagi siapa pun yang mencicipinya.

Sebuah Pengakuan Dunia bagi Kuliner Lokal

Pengakuan terhadap pempek sebagai salah satu hidangan laut terbaik dunia memicu gelombang kebanggaan di tanah air. Di tengah gempuran kuliner

modern dan fusion, pempek tetap mempertahankan jati dirinya sebagai makanan berbasis ikan yang dipadukan dengan sagu dan disajikan dengan kuah hitam kental yang eksotis bernama cuko.

Keberhasilan pempek menduduki peringkat keempat dunia mengungguli ribuan jenis hidangan laut lainnya dari berbagai benua. Para penilai internasional menyoroti keseimbangan tekstur yang kenyal namun lembut,

serta ledakan rasa yang dihasilkan dari perpaduan pedas, manis, dan asam pada sausnya. Ini adalah bukti nyata bahwa kuliner tradisional Indonesia adalah aset budaya yang tak ternilai harganya.

Akar Sejarah: Jejak Akulturasi dalam Sepiring Pempek

Untuk memahami mengapa pempek begitu istimewa, kita harus menengok jauh ke belakang, tepatnya pada masa Kesultanan Palembang di abad ke-16. Sejarah mencatat bahwa pempek merupakan hasil dari proses akulturasi budaya yang sangat harmonis.

Pada masa itu, Sungai Musi yang membelah Kota Palembang melimpah dengan berbagai jenis ikan. Masyarakat lokal awalnya hanya mengolah ikan dengan cara digoreng atau direbus secara sederhana.

Kedatangan para pedagang dari Tiongkok membawa teknik baru dalam mengolah ikan, yakni mencampurnya dengan tepung tapioka atau sagu untuk menghasilkan tekstur yang lebih menarik.

Nama “pempek” sendiri konon berasal dari sebutan untuk pria tua keturunan Tionghoa, yaitu “Apek”. Para pedagang tua ini sering berkeliling

menjajakan makanan olahan ikan tersebut. Ketika pembeli ingin membeli, mereka sering memanggil, “Pek… apek!”, yang kemudian lambat laun berubah menjadi sebutan “pempek” hingga saat ini.

Bahan Baku Utama: Kunci Kualitas Premium

Salah satu alasan utama mengapa pempek bisa menduduki peringkat atas dunia adalah kualitas bahan bakunya. Tidak sembarang ikan bisa menghasilkan pempek dengan kualitas juara.

1. Pemilihan Jenis Ikan

Awalnya, ikan yang digunakan adalah Ikan Belida. Namun, karena populasinya yang semakin langka dan dilindungi, para pengrajin pempek beralih menggunakan Ikan Tenggiri. Ikan tenggiri memiliki tekstur

daging yang halus, rasa yang gurih alami, dan aroma yang tidak terlalu amis, sehingga sangat cocok untuk diolah menjadi adonan pempek yang kenyal. Selain tenggiri, ikan gabus dan ikan kakap super juga sering digunakan sebagai alternatif untuk mendapatkan profil rasa yang berbeda.

2. Sagu atau Tapioka Berkualitas

Sagu merupakan “kerangka” dari pempek. Penggunaan sagu yang berkualitas tinggi akan menentukan apakah pempek tersebut akan menjadi keras setelah

dingin atau tetap lembut dan kenyal. Rasio antara ikan dan sagu sangat krusial; pempek kualitas premium biasanya memiliki kandungan ikan yang jauh lebih banyak daripada tepungnya.

3. Rahasia Cuko yang Autentik

Pempek tanpa cuko ibarat sayur tanpa garam. Cuko yang sempurna harus dibuat dari:

Gula Merah (Gula Batok): Harus menggunakan gula batok asli dari daerah tertentu (seperti Lubuklinggau) agar menghasilkan warna hitam pekat dan rasa manis yang legit tanpa rasa pahit.

Asam Jawa atau Cuka Makan: Memberikan sensasi segar.

Cabai Rawit dan Bawang Putih: Memberikan tendangan rasa pedas dan aroma yang menggugah selera.

Ebi (Udang Kering): Sering ditambahkan untuk memperkuat aroma laut yang sedap.

Eksplorasi Varian Pempek: Dari yang Klasik hingga Unik

Kekayaan kuliner ini tidak berhenti pada satu bentuk saja. Ada berbagai jenis pempek yang masing-masing memiliki karakteristik dan cara menikmati yang berbeda:

Pempek Kapal Selam

Inilah varian yang paling ikonik dan sering kali menjadi representasi utama pempek. Dinamakan kapal selam karena ukurannya yang besar dan proses pembuatannya yang unik,

di mana telur utuh dimasukkan ke dalam kantong adonan pempek sebelum direbus. Saat direbus, pempek ini tenggelam dan baru akan mengapung saat matang, mirip dengan mekanisme kapal selam.

Pempek Lenjer

Bentuknya silinder panjang dan polos. Lenjer adalah bentuk dasar dari pempek. Kelebihannya terletak pada kemurnian rasa ikannya karena tidak dicampur dengan isian lain. Biasanya, lenjer dipotong-potong kecil sebelum digoreng dan disajikan.

Pempek Adaan

Berbeda dengan jenis lainnya, pempek adaan berbentuk bulat seperti bakso dan biasanya langsung digoreng tanpa melalui proses perebusan terlebih dahulu. Adonannya sering dicampur dengan irisan bawang merah dan santan, memberikan rasa yang lebih gurih dan aroma yang harum.

Pempek Kulit

Bagi pecinta tekstur renyah, pempek kulit adalah primadona. Dibuat dari campuran daging dan kulit ikan, varian ini memiliki warna yang lebih gelap namun rasa yang sangat kuat dan tekstur yang crispy di luar namun tetap lembut di dalam.

Pempek Keriting

Varian ini memiliki bentuk yang paling artistik, menyerupai gumpalan mie atau benang yang saling silang. Proses pembuatannya memerlukan alat khusus dan ketelitian tinggi agar bentuknya tetap terjaga saat direbus.

Pempek Panggang (Tunnu) dan Lenggang

Selain digoreng, ada juga pempek yang dipanggang di atas bara api. Pempek panggang biasanya dibelah di tengahnya dan diisi dengan campuran kecap manis,

ebi, dan cabai. Sementara itu, lenggang adalah irisan pempek lenjer yang dicampur ke dalam kocokan telur lalu didadar di atas daun pisang, memberikan aroma smoky yang khas.

Analisis Rasa: Mengapa Lidah Global Jatuh Cinta pada Pempek?

Berdasarkan tinjauan para ahli gastronomi, pempek menawarkan profil rasa Umami yang sangat tinggi. Rasa gurih alami dari protein ikan berpadu sempurna dengan karbohidrat dari sagu. Namun, rahasia sesungguhnya terletak pada kontras rasa.

Saat kita menggigit pempek, kita mendapatkan tekstur kenyal (chewy). Di saat yang bersamaan, saus cuko memberikan serangan rasa asam-pedas-manis yang langsung membersihkan langit-langit mulut (palate cleanser),

sehingga setiap suapan terasa segar dan tidak membosankan. Inilah yang disebut dengan keseimbangan rasa (balance of flavor) yang sangat dicari dalam standar kuliner internasional.

Selain itu, metode pengolahan pempek yang melibatkan perebusan sebelum penggorengan menciptakan lapisan luar yang garing dengan bagian dalam yang lembap. Kontras tekstur ini merupakan elemen kunci yang sering ditemukan pada makanan-makanan terbaik dunia.

Pempek dalam Perspektif Kesehatan

Sebagai makanan berbasis hidangan laut, pempek bukan hanya sekadar memanjakan lidah, tetapi juga memberikan manfaat nutrisi. Ikan sebagai bahan utama merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung asam lemak Omega-3, yang baik untuk kesehatan jantung dan fungsi otak.

Tepung sagu menyediakan sumber energi yang cukup, sementara bawang putih dan cabai dalam cuko mengandung antioksidan serta dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh.

Meskipun digoreng, pempek tetap dianggap sebagai pilihan camilan yang lebih bernutrisi dibandingkan dengan makanan ringan olahan pabrikan yang mengandung banyak pengawet.

Tantangan dan Masa Depan Pempek di Kancah Global

Meskipun sudah menduduki peringkat keempat dunia, perjalanan pempek untuk menjadi kuliner yang setara dengan sushi dari Jepang atau pasta dari Italia masih panjang. Tantangan utama terletak pada standardisasi kualitas dan distribusi bahan baku ke luar negeri.

Namun, dengan predikat yang baru diraih ini, peluang bagi pengusaha kuliner Indonesia untuk mengekspor pempek dalam bentuk kemasan vakum

(frozen food) semakin terbuka lebar. Inovasi dalam pengemasan memastikan bahwa rasa autentik pempek Palembang tetap terjaga meskipun harus menempuh perjalanan ribuan mil melintasi samudra.

Cara Menikmati Pempek Seperti Warga Lokal

Untuk mendapatkan pengalaman maksimal dalam mencicipi peringkat empat makanan seafood terbaik ini, ada etika atau cara tersendiri yang sering dilakukan oleh warga Palembang:

Goreng dengan Pas: Jangan menggoreng pempek terlalu lama agar bagian dalamnya tidak menjadi keras. Cukup sampai kulit luar berwarna kuning keemasan.

Cuko yang Pekat: Jangan mencampur cuko dengan terlalu banyak air. Cuko yang asli harus kental dan memiliki aroma bawang putih yang kuat.

Menuangkan atau Mencelup? Warga lokal sering kali mencelupkan potongan pempek ke dalam mangkuk kecil berisi cuko. Namun, ada juga yang lebih ekstrem dengan meminum langsung sisa cuko dari mangkuk setelah pempek habis—sebuah kebiasaan yang dikenal dengan istilah “ngirup cuko”.

Tambahan Pendamping: Selalu sajikan dengan irisan mentimun segar untuk memberikan tekstur renyah dan mendinginkan lidah dari rasa pedas, serta taburan ebi bubuk untuk menambah kedalaman aroma seafood.

Kesimpulan: Kebanggaan yang Harus Dijaga

Masuknya pempek dalam daftar elit kuliner seafood dunia adalah momentum penting bagi Indonesia. Ini adalah pengingat bahwa kekayaan alam kita, jika dikelola dengan kreativitas dan ketekunan, dapat menghasilkan sesuatu yang diakui secara universal.

Pempek bukan sekadar makanan; ia adalah simbol ketahanan budaya, bukti akulturasi yang damai, dan manifestasi dari kecerdasan kuliner nusantara.

Peringkat keempat dunia hanyalah awal. Dengan promosi yang tepat dan pelestarian resep yang autentik, bukan tidak mungkin pempek akan terus naik peringkat dan menjadi ikon kuliner global yang paling dicari.

Tinggalkan komentar